Lumpur dan gedung pencakar langit Oleh faraz Putra

f

Lumpur dan gedung pencakar langit

© faraz Putra

fajar menjinguk dibalik lukisan tuhan
kukenakan topi purun dan kuambil cangkulku
kau kenakan blazer mu dan kau ambil tas berlapis emasmu
kugunakan kedua kaki ku menuju tempat berlumpur ditemani kicauan burung nan merdu
kaugunakan roda empatmu menuju tempat sejuk ditemani pemandangan nan indah dibalik jendela gedung pencakar langit
mungkinkah dari sana kau terbesit melihat seorang pemuda bermandikan keringat berlumuran lumpur
mungkinkah dari sana kau terbesit melihat tempat yang mungkin kakimu tak pantas menapak diatasnya
seandainya kita masih bersama, hal itu mungkin masih pantas untukmu
andai egoku duku setinggi gedung itu
mungkin kau takkan berada disana
tapi tidak apa-apa
syukur selalu kuucap karena kini kau telah bahagia.


Berapa nilai untuk puisi ini ?

Beri nilai dengan tap jumlah bintang dibawah ini. Dari kiri ke kanan 1 sampai 10

Average rating 8 / 10. Vote count: 1

Belum ada yang memberi nilai, jadilah yang pertama!

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *